Diky Rahmad Lontar Pasal Hukum, Janjian Ketemu Malah Tak Nampak Batang Hidungnya, Roling door Dapur MBG Yuspa Ditutup Rapat, Ada Bangkai Kah?

oleh -104 Dilihat
oleh

Liputanabn.com | PALEMBANG – Suasana memanas di depan Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) Yuspa, kawasan Kemang Agung, Kecamatan Kertapati. Alih-alih terbuka dan kooperatif, keberadaan awak media yang tergabung dalam Media Center Jurnalis Kertapati (MC-JK) justru disambut dengan sikap tertutup, penghalangan akses, hingga ancaman pasal hukum. Yang makin bikin penasaran: sosok yang dulunya merespons konfirmasi dan mengancam dengan pasal pencemaran nama baik, tiba-tiba “hilang” saat diajak berhadapan langsung untuk menjelaskan masalahnya.

Kasus ini bermula saat tanggal 14 Mei lalu, tim MC-JK melakukan konfirmasi tertulis terkait kondisi dapur milik Yusfa yang menuai sorotan publik, mulai dari masalah limbah berulat hingga sampah menumpuk. Saat itu, Diky Rahmad sebagai SPPI MBG Kertapati merespons dengan sopan, bahkan sempat berkata: “Terimakasih informasinya Pak, akan kami tindak lanjuti, boleh tau siapa nama Bapak dan Bapak dari mana?”

Tim MC-JK pun menjawab dengan jelas identitasnya sebagai awak media wilayah Kertapati, sekaligus menanyakan kelanjutan informasi tersebut. Namun, situasi berubah drastis tepat pada Kamis (21/05). Saat MC-JK mengirimkan tautan berita yang sudah tayang berdasarkan fakta lapangan, nada balasan Diky Rahmad berubah tajam dan penuh tuduhan.

“Maaf Pak Anda salah orang, jangan asal menerbitkan nama, saya bukan SPPI di dapur yang Bapak beritakan,” begitu tulis Diky Rahmad, yang langsung disusul dengan lontaran ancaman hukum. Ia menyebutkan Pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik serta Pasal 433 UU No.1 Tahun 2023, seolah-olah pemberitaan yang dilakukan MC-JK adalah sebuah kesalahan fatal yang merugikan dirinya.

Perubahan sikap mendadak ini tentu membuat awak media bertanya-tanya sekaligus penasaran. Tim MC-JK pun balik bertanya lewat pesan: “Waktu dikonfirmasi awal kenapa mengeluarkan statemen kalau memang bukan ranah Anda? Dari awal tidak usah mengeluarkan statemen kalau tidak ada kaitannya.”

Untuk meluruskan masalah dan mencari kejelasan, MC-JK mengajak Diky Rahmad bertemu duduk bersama. Awak media ingin tahu: di mana letak nama baik yang dicemarkan? Poin mana dalam berita yang dianggap salah? Dan di mana hak jawab yang seharusnya disampaikan jika memang merasa terganggu?

Alih-alih menjawab poin-poin penting itu, Diky Rahmad justru mengajak bertemu langsung di lokasi dapur MBG Yuspa, Kemang Agung. Merasa ini jalan terbaik untuk transparansi, tim MC-JK pun bergegas meluncur ke lokasi. Namun apa yang terjadi? Sesampainya di sana, Diky Rahmad tak terlihat batang hidungnya sama sekali! Ia malah mengarahkan awak media untuk menemui Diky Anuari yang disebut sebagai SPPI di dapur tersebut.

Di depan gerbang dapur, keanehan makin terasa. Saat awak media bertanya kepada petugas keamanan, “Di sini Diky yang mana? Kami kesini sudah janji sama Diky Rahmad mau ketemuan,” kehadiran jurnalis justru dianggap sebagai “momok” yang tidak diharapkan. Terlihat jelas suasana di dalam dapur menjadi riuh, ada yang buru-buru menutup rolling door, seolah ada sesuatu yang berusaha disembunyikan dari sorotan kamera dan mata publik.

Bukan disambut dengan penjelasan, petugas keamanan malah bersikap angkuh dan terus menghalangi akses awak media untuk menjalankan tugas investigasi. Suasana pun memanas. Dihadapkan pada penghalangan yang berlebihan itu, Jhoni Antoni Selaku Perwakilan MC-JK angkat bicara dengan nada tegas dan lantang, mengingatkan siapa sebenarnya yang mengelola program ini.

“Kami kemari karena sudah janji mau ketemuan. Kami juga awak media Kertapati, kami mau investigasi! Kami selaku kontrol sosial yang ada di Kertapati ini!” tegaskan awak media, lalu melontarkan peringatan keras:

“Ingat ini Bukan usaha pribadi atau warung makan milik sendiri! Ini MBG, Program Bapak Presiden Prabowo Subianto! Kalau kami dihalangi, berarti kemerdekaan pers kami Anda rampas! Kalau begini caranya, kami makin mempertanyakan: ada apa sebenarnya dengan dapur MBG Yuspa Kemang Agung ini? Kenapa harus takut ditinjau?”

Sampai berita ini diturunkan, tim Media Center Jurnalis Kertapati sama sekali belum berhasil bertemu muka dengan kedua sosok bernama Diky tersebut, baik Diky Rahmad maupun Diky Anuari. Ancaman pasal hukum yang dilontarkan sebelumnya pun terasa kosong belaka, karena tak ada satu pun bukti atau poin pembantahan yang disampaikan secara jelas.

Fakta berbicara lain: ancaman pasal, ajakan bertemu yang berujung kabur, hingga penghalangan fisik oleh petugas keamanan, justru semakin menguatkan dugaan bahwa masih banyak hal yang ditutup-tutupi di balik tembok dapur MBG Yuspa. Publik pun bertanya-tanya: apa yang sebenarnya disembunyikan? Dan sampai kesepepanjang ini program negara diperlakukan seperti milik pribadi yang tertutup rapat? Kami akan terus awasi dan bongkar sampai tuntas!.” tandasnya. ( Red )

Editor : Bolok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.