Liputanabn.com | BANYUASIN – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Nusantara Ekspres menyoroti temuan penyimpanan bahan bakar dalam tangki berkapasitas besar di lokasi kegiatan cetak sawah di Kelurahan Seterio, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin.
Temuan tersebut memunculkan tanda tanya terkait jenis bahan bakar yang digunakan untuk operasional alat berat dalam proyek yang merupakan bagian dari program pemerintah tersebut. LSM Nusantara Ekspres mendesak pihak pelaksana maupun instansi terkait untuk memberikan penjelasan secara terbuka kepada masyarakat.
Ketua LSM Nusantara Ekspres, Ismail Abdullah, menegaskan bahwa penggunaan bahan bakar dalam proyek yang menggunakan alat berat dan menyangkut kepentingan publik harus diawasi secara ketat serta dilakukan secara transparan.
“Kami meminta seluruh pihak terkait terbuka. Jika memang bahan bakar yang digunakan legal dan sesuai aturan, tentu harus dijelaskan kepada publik. Sebaliknya, jika ada dugaan pelanggaran, harus ditelusuri oleh pihak yang berwenang,” tegas Ismail.
Menurutnya, keberadaan tangki penyimpanan bahan bakar dalam jumlah besar di sekitar lokasi proyek menjadi perhatian serius karena proyek cetak sawah menggunakan anggaran negara dan diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat luas.
“Kami tidak ingin berspekulasi. Namun masyarakat berhak mengetahui jenis bahan bakar yang digunakan, dari mana asalnya, dan apakah penggunaannya telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tambahnya.
Sementara itu, pengawas lapangan yang diketahui bernama Enji membenarkan bahwa cairan yang tersimpan dalam tangki tersebut merupakan milik perusahaan. Ia menyebut cairan tersebut merupakan bahan bakar industri yang disiapkan untuk kebutuhan operasional.
“Itu minyak industri milik perusahaan. Rencananya akan kami kembalikan karena kualitasnya kurang bagus,” ujar Enji saat dikonfirmasi.
Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan lanjutan mengenai jenis bahan bakar yang dimaksud, standar kualitas yang digunakan, serta mekanisme pengadaannya. Terlebih, bahan bakar tersebut disebut telah berada di lokasi proyek sebelum akhirnya dinyatakan akan dikembalikan kepada pemasok.
Di sisi lain, saat dikonfirmasi terkait dugaan penggunaan BBM yang disebut-sebut sebagai “BBM cong” di lokasi proyek cetak sawah, Lurah Seterio mengaku tidak mengetahui adanya penyimpanan bahan bakar berwarna hitam dalam jumlah besar di wilayahnya.
“Saya tidak mengetahui adanya penyimpanan BBM berwarna hitam dengan jumlah yang disebut mencapai sekitar 10 ton tersebut,” ujar Lurah Seterio.
Perbedaan informasi yang muncul di lapangan tersebut dinilai perlu mendapat perhatian instansi terkait guna menghindari simpang siur informasi di tengah masyarakat. LSM Nusantara Ekspres pun meminta agar dilakukan pemeriksaan serta verifikasi terhadap jenis bahan bakar yang digunakan dalam operasional proyek tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan mengenai spesifikasi bahan bakar yang dimaksud maupun dokumen yang menjelaskan asal-usul dan peruntukannya. LSM Nusantara Ekspres mendesak adanya transparansi dan pengawasan dari pihak berwenang guna memastikan seluruh kegiatan proyek berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. (Tim)
Editor : Bolok






