Liputanabn.com | Lebak – Proyek jalan konektivitas ruas Cikeusik–Simpang Cijaku kembali menjadi sorotan. Setelah mendapat aduan dari warga, ditemukan retakan parah pada rigid beton di sejumlah titik, menimbulkan dugaan kuat adanya penggunaan material tidak sesuai standar.
Kondisi Memprihatinkan di Lapangan
Peninjauan langsung di lokasi proyek, yakni di Kampung Cikeusik Timur, Malingping Selatan, dan Mekarsari, Sukaraja, menunjukkan keadaan yang mengkhawatirkan. Beton yang baru beberapa hari selesai dibangun sudah dipenuhi retakan memanjang, bahkan tembus ke dasar, dengan permukaan bergelombang dan lebar plat yang tidak sesuai spesifikasi. Ironisnya, kualitas beton diduga berasal dari ready mix yang tidak memenuhi standar teknis dan RAB proyek, meski pengawas teknis terlihat hadir di lapangan namun tampak gagal mengantisipasi kerusakan ini.
Hampir 14 titik retakan telah terdeteksi sepanjang jalur proyek. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap daya tahan dan keamanan konstruksi yang seharusnya memenuhi standar mutu dan ketahanan jangka panjang.
Kuat Dugaan Penggunaan Material Tidak Sesuai
“Baru selesai beberapa hari lalu, tetapi sudah mulai retak dari pinggiran hingga ke dasar. Ini menunjukkan material dan pelaksanaan yang bermasalah. Kami takut kerusakan akan meluas dan mempercepat kerusakan permanen,” ungkap salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Hendrik Arrizqy, Ketua Ikatan Mahasiswa Cilangkahan (IMC), menegaskan bahwa retakan tersebut diduga akibat penggunaan ready mix di luar standar mutu. Ia juga menyoroti ketidaksesuaian proses pelaksanaan, mulai dari curing beton, ketebalan Lean Concrete, hingga lapisan dasar jalan yang tidak dilakukan secara optimal.
Seruan untuk Transparansi dan Evaluasiyeluruh
Hendrik mendesak pihak pelaksana dan instansi terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek ini. Ia juga menuntut transparansi penuh melalui konferensi pers resmi atau surat audiensi agar masyarakat mendapatkan penjelasan lengkap mengenai standar dan kualitas pelaksanaan proyek.
“Ini proyek dana negara, harus transparan dan sesuai standar agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Jangan sampai jalur yang seharusnya memperkuat konektivitas justru menjadi sumber masalah di kemudian hari,” tegas Hendrik.
Editor : Bolok









