Waspada Penularan Radikalisme Saat Ramadhan, Imron: Pendekatan Humanis dan Koordinasi Jadi Kunci

oleh -31 Dilihat
oleh

Liputanabn.com | OKU TIMUR — Memasuki bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, kewaspadaan publik terhadap penyusupan paham radikal kembali disorot. Momentum ibadah dinilai kerap dimanfaatkan pihak tertentu untuk menyebarkan ideologi yang bertentangan dengan konstitusi, terutama melalui ruang digital dan forum keagamaan.

Peringatan keras itu disampaikan Imron, eks pimpinan Negara Islam Indonesia (NII) Desa Batumas OKU Timur yang kini dipercaya sebagai Ketua Pengurus Anak Ranting Muhammadiyah Desa Batu Mas, Kecamatan Belitang II, Kabupaten OKU Timur.

Dengan nada tegas, Imron mewanti-wanti generasi muda dan kalangan masyarakat menengah agar tidak lengah terhadap manuver kelompok yang berlindung di balik simbol dan jargon keagamaan.

“Biasanya penyusupan terjadi lewat forum diskusi. Mereka memunculkan tokoh-tokoh yang tidak familiar, tapi punya pengaruh kuat. Nama kelompok tidak disebutkan, sehingga anggota baru sering tidak sadar sudah masuk dalam jaringan,” ungkap Imron, Rabu (25/02/2026).

Ia menegaskan, kelompok usia 11–18 tahun menjadi target paling rentan. Pada fase tersebut, anak dinilai masih dalam proses pencarian jati diri sehingga mudah terpengaruh narasi yang dibungkus secara persuasif.

“Usia 11 sampai 18 tahun sangat rentan. Karena itu pengawasan orang tua menjadi kunci. Anak-anak di usia ini mudah terpengaruh hal yang belum mereka pahami,” tegasnya.

Imron juga mengingatkan masyarakat umum untuk tidak ragu melakukan koordinasi dengan pihak berwenang apabila menemukan aktivitas kelompok yang mencurigakan di lingkungan sekitar.

*Pendekatan Humanis Polri*
Dalam keterangannya, Imron turut membagikan pengalaman masa lalunya sebelum kembali ke pangkuan ideologi negara. Ia mengakui pendekatan aparat kepolisian berperan besar dalam proses perubahan dirinya.

Menurutnya, pembinaan yang dilakukan jajaran kepolisian — mulai tingkat Polda hingga Polres — berlangsung persuasif dan humanis, jauh dari stigma represif yang selama ini didoktrinkan di internal kelompok.

“Kami dulu didoktrin seolah akan menghadapi pendekatan militer. Tapi yang kami rasakan justru pembinaan yang humanis dan komunikatif. Itu yang akhirnya mengubah pandangan kami,” ujarnya.

Ia menilai pola penanganan yang mengedepankan pendekatan presisi dan kemanusiaan perlu terus dipertahankan, terutama dalam merangkul masyarakat yang pernah terpapar paham menyimpang.

Mengutip arahan pimpinan Muhammadiyah, Imron berharap tidak ada perubahan arah dalam penanganan yang justru berpotensi memicu ketegangan baru di lapangan.

“Yang kami rasakan sekarang sudah tepat — presisi dan humanis. Jika pendekatan ini berubah, kami khawatir justru memunculkan konflik baru,” pungkasnya.

Dengan meningkatnya aktivitas keagamaan selama Ramadhan, masyarakat diimbau memperkuat kewaspadaan kolektif agar ruang ibadah tetap bersih dari infiltrasi paham yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

Editor : Bolok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.